Tugas 4 (17 September 2012) : Kajian Milestone S3

Kajian Tentang Milestone S3

 

Milestone S3 pada Prodi Teknik Elektro dan Informatika ITB :

  1. Kualifikasi (1000 jam) : Identifikasi masalah (Research Question), State of the Art, Teori-teori pendukung (premises), Hipotesis, Tools yang diperlukan, Publikasi paper di seminar (prosiding) nasional
  2. Seminar I (800 jam) : Konsep asistem yang dikembangkan, model formal dassar, skenario cara kerja dan performansi sistem, sasaran novelty, publikasi paper di seminar (prosiding) nasional
  3. Seminar II (800 jam) : Algoritma dan Coding. Percobaan/simulasi dan hasil-hasil awal, publikasi paper di seminar (prosiding) internasional
  4. Seminar III (800 jam) : validasi dan verifikasi, analisis hasil, perbandingan dengan sistem/penelitian sejenis, perbaikan, publikasi paper di jurnal nasional/internasional
  5. Seminar IV (800 jam) : Hasil simulasi akhir atau prototype sistem, nalaisis kontribusi dan kesimpulan (conclusion), publikasi paper di jurnal internasional
  6. Reviewing dan sidang tertutup (800 jam) : Draft disertasi lengkap, revisi, presentasi dan ujian-ujian

Komentar :

Menurut saya, standard ukuran masing-masing milestone akan lebih baik dalam satuan bulan, dengan alasan:

–          Lebih mudah dilihat dan dinterpretasikan

–          Lebih memudahkan dalam membuat target pekerjaan

–          Lebih nyata. karema jika dalam jam, tidak jelas seorang mahasiswa menggunakan waktu berapa jam dalam satu hari untuk bekerja/belajar

Beberapa perguruan tinggi seperti University of Quensland [1], Monash University [2], Liverpool John Moores University [3],  juga menggunakan satuan bulan dalam milestone-nya

Tahapan-tahapan dalam milestone akan lebih mudah dilihat dalam bentuk tabel time schedule (tabel 1) serta penjelasan detil untuk setiap tahapannya. Hal ini dikarenakan secara visual akan lebih user friendly, seperti milestone pada school of biological science university of quensland [1].

Tabel 1. Milestone S3 (contoh)

Aktifitas Sem 1 Sem 2 Sem 3 Sem 4 Sem 5 Sem 6
Kualifikasi xxxxxx xxxxxx
Seminar I xxxxxx
SeminarII xxxxxx
Seminar III xxxxxx
Seminar IV xxxxxx
Reviewing xxxxxx

Menurut saya, sebaiknya kuliah dengan pertemuan rutin tidak perlu. Karena pada prakteknya mahasiswa justru banyak tersita waktunya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam matakuliah tersebut, sehingga waktu untuk pencarian/penajaman topik penelitian untuk disertasi jadi berkurang

Setiap tahapan dalam milestone sebaiknya ada batas awal dan batas akhir sesuai kalender akademik, sehingga dapat memudahkan bagi mahasiswa untuk menentukan target studinya, dan memudahkan pihak perguruan tinggi untuk melakukan evaluasi

Daftar Pustaka :

–          http://www.uq.edu.au/education/docs/MilestoneGuidelines.pdf

–          http://sci.monash.edu/postgrad/report-phd.html

–          http://www.ljmu.ac.uk/Research/Research_docs/Student_Milestone_Checklist.pdf

Advertisements

Tugas 3 (17 Sept 2012): Inovasi

Social Media Based E-Office (Sodifice)

Dewasa ini tingkat penggunaan social media di Indonesia meningkat dengan sangat pesat. Misal facebook, Indonesia merupakan pengguna facebook terbesar ke-3 di dunia. Social media selain sebagai sarana interaksi sosial secara virtual, saat ini juga banyak digunakan sebagai sarana bisnis, kampanye, game online, perwalian mahasiswa, bimbingan tugas akhir, perkuliahan, dsb. Bahkan saat ini social media sudah banyak digunakan sebagai sarana interaksi yang bersifat kedinasan (office), sebagai contoh sebagai sarana diskusi dari karyawan dalam satu perusahaan atau department tertentu.

Berangkat dari kegandrungan masyarakat akan social media ini, di sini saya mengusulkan suatu aplikasi e-office yang dibuat dalam format social media yang diberi nama Social Network based E-Office. Ide dari hal ini tidak terlepas format social media yang begitu user friendly, hangat, jauh dari kesan formal. Tantangan yang ada di sini adalah bagaimana memadukan suatu format yang tidak formal, dimanfaatlan untuk keperluan formal.

Format aplikasi ini adalah perpaduan facebook dan blog, seperti diilustrasikan pada gambar 1, karena facebook adalah social media yang mempunyai fitur yang lengkap serta merupakan social media paling popular, sementara itu blog nanti digunakan untuk menampilkan profil pribadi dari user.

Aplikasi ini dimiliki oleh sebuah institusi tertentu (bersifat internal), digunakan sebagai sarana interaksi antar orang-orang dalam institusi tersebut untuk keperluan kedinasan.

Perbedaan antara facebook dengan aplikasi ini dapat digambarkan melalui fitur-fiturnya, seperti dijelaskan sebagai berikut :

 User Account dan Group Account

Yang berhak mendapatkan user account adalah karyawan dan pimpinan dari perusahaan. Group account dibuat berdasarkan struktur organisasi atau struktur kepanitiaan. Tidak setiap user account dapat membuat grup

 Fitur Group

Jika dalam facebook ada group, maka dalam sodifice juga ada group, namun group ini dipetakan dari struktur organisasi yang ada dalam institisi tersebut. Jadi group dalam aplikasi ini mengacu pada departemen-departemen dalam institusi tersebut, seperti digambarkan pada gambar 2. Karena dalam kenyataan sebuah institusi adalah sebenarnya sebuah kelompok (grup) organisasi, maka susuna organisasi ini harus terpetakan dalam fitur group dari sodifice ini. Komunikasi dalam sebuah group, merepresentasikan komunikasi antar orang-orang dalam suatu departemen, untuk keperluan kedinasan, tentunya. Fitur group ini dapat dibuat dengan struktur bersarang. Misal untuk institusi A, dibuat grup A. Untuk institusi A, ada 8 departemen, sehingga bisa dibuat 8 group lagi. Masing-masing departemen ada seksi-seksi lagi, maka dapat dibuat group lagi unuk seksi-seksi ini. Namun group A masih bisa melihat dan mengendalikan pembicaraan dalam 8 group ini.

Fitur group ini juga dapat digunakan untuk kepanitiaan. Jadi group-group yang ada, masih mempertahankan struktur kepanitiaan yang ada. Misal untuk kegiatan A, dibuat grup A. Untuk kepanitiaan A, ada 6 seksi, sehingga bisa dibuat 6 group lagi, dengan struktur bersarang tentunya

Fitur update status

Yang dapat memanfaatkan update status hanya pejabat-pejabat departemen-departemen tertentu. Hal ini dimaksudkan agar aplikasi ini konsisten untuk keperluan e-office. Adanya fitur ini dapat digunakan untuk memberikan pengumuman-pengumuman yang bersifat institusional, ataupun mengkomunikasikan kegiatan yang telah dilakukan suatu departemen, suatu kepanitiaan, atau perorangan, yang berhubungan dengan masalah kedinasan, tentunya.

Fitur chat

Chat dapat dilakukan seperti halnya chat pada facebook, siapa saja dapat melakukan chat pada semua account yang ada di aplikasi. Dengan adanya fitur chat ini, setiap user dapat berkomunikasi dengan user yang lain.

Fitur Event

Fitur event berisi kegiatan yang bersifat kedinasan, sebagai contoh, rapat, seminar, pelatihan, workshop, dsb. Setiap user/group dapat mendapatkan notifikasi adanya event ini, ataupun undangan untuk mengikuti event-event tertentu. Suatu group juga dapat mengirimkan pemberitahuan atau undangan event ini ke perorangan atau group yang lain.

Fitur Message

Fitur message seperti halnya email. Fitur mesage di sini dapat digunakan juga unyuk mengirim file attacment. Fitur message ini dapat digunakan untuk menggantikan surat-surat resmi yang bersifat internal dalam institusi.

Fitur Profil

Fitur profil ini dapat berfungsi seperti halnya blog pribadi, yang bisa berisi koleksi galeri foto dan video, artikel-artikel yang sesuai dengan bidang kompetensi setiap user, dan juga ada fitur upload file. Formatnya mirip dengan blog pada umumnya. Setiap user dapat mengekspresikan kompetensinya melalui fitur ini

Fitur video Conference

Fitur ini digunakan untuk rapat-rapat virtual, baik dalam satu departemen, satu kepanitiaan, maupun antar departemen.

Sodifice diharapkan dapat memberikan fasilitas bagi karyawan dalam suatu institusi untuk berinteraksi lebih intensif, walaupun secara virtual. Dengan dikembangkannya aplikasi berbasis pada social media, diharapkan aplikasi dapat user friendly.

Tugas Proceeding, Jurnal dan Disertasi untuk Topik Peneltian S3

Tugas kedua ini adalah mencari proceeding internasional, jurnal internasional serta disertasi yang berhubungan dengan topik S3 yang akan diambil. Dalam studi S3 kali ini, saya akan mengambil topik tentang text mining, khususnya tentang opinion mining.

1. Untuk disertasi, saya ambil :

Nozomi Kobayashi, Opinion Mining from Web documents:Extraction and Structurization, Doctoral Dissertation, Department of Information Processing Graduate School of Information Science Nara Institute of Science and Technology, 2007

bisa diunduh di sini

atau bisa dilihat pada : dthesis-Kobayashi

2. Untuk Jurnal, saya ambil :

Xu, Kaiquan., Liao, Shaoyi Liao., Li, Jiexun., Song, Yuxia., Mining Comparative Opinions from Customer reviews for Competitive Intelligence, Decision Support Sysytems 50, 743-754, 2011

bisa diunduh di sini 

3. Untuk Proceeding, saya ambil :

Jindal, N. and Liu, B, Identifying Comparative Sentence in Text Documents, SIGIR ’06 Proceedings of the 29th annual international ACM SIGIR conference on Research and development in information retrieval, 2006

bisa diunduh di sini

Tugas 2 (10 Sept 2012) :Keberhasilan Studi S3

Keberhasilan studi s3 ditentukan oleh 3 faktor penting, yaitu knowledge, skill dan attitude. Dalam hal ini, attitude memegang peranan paling penting. Attitude ini merupakan pengkondisian diri untuk suatu tujuan tertentu. Sebagai contoh, begitu kita memiliki sikap mau belajar, sikap harus menguasai bahan, maka kita harus bisa mengkondisikan diri sendiri untuk itu. Attitude ini pada akhirnya berpengaruh pada kemauan, motivasi serta kultur. Kultur sebagai seorang peneliti, dapat dibentuk melalui proses yang tidak mudah. Sikap kerja keras, sikap kritis (keingin tahuan yg tinggi), akan sangat menunjang untuk peningkatan kedua faktor yang lain, yaitu knowledge dan skill. Selain itu attitude juga berpengaruh pada hubungan kita dengan orang lain, dengan team, dengan komunitas ilmiah. Jika attitude kita dipandang kurang baik oleh orang lain, maka kita akan kurang bisa diterima oleh orang lain maupun komunitas. Keberhasilan sebuah riset, apalagi disertasi s3,  tidak mungkin dapat diraih tanpa interaksi dengan orang lain maupun komunitas. Sebagai contoh, dalam riset disertasi, kita harus berinteraksi dengan advisor kita, selain itu juga kita harus banyak berdiskusi dengan rekan-rekan dalam satu bidang keahlian, atau sebuah komunitas ilmiah pada bidang tertentu. Interksi dengan suatu komunitas bisa melalui komunitas milist pada bidang ilmu tertentu, ataupun konferensi-konferensi untuk suatu bidang tertentu.

Selain ketiga faktor di atas, ada faktor tambahan, yang mungkin bagi sebagaian orang, faktor ini dapat diabaikan. Faktor tersebut adalah pendanaan. Bagi sebagian mahasiswa S3, faktor ini merupakan penunjang dalam kelangsungan studi S3. Jika terjadi keterbatasan dana, tentu akan mengganggu konsentrasi mahasiswa terhadap penelitiannya, bahkan mungkin bisa berhenti di tengah jalan.

Selain faktor-faktor pendukung yang telah disebutkan di atas, ada faktor penghambat, yaitu kemalasan. Ada kalanya, kita merasa malas untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan penelitian kita. Hal ini bisa dipicu pada beberapa sebab, misal perasaan jenuh, tertarik pada suatu hobi yang menyita waktu, ada masalah dengan keluarga, dan sebagainya.

Jika dimodelkan persamaan matematik, maka kunci keberhasilan S3 dapat dimodelkan sebagai berikut :

Keterangan :

dengan S3 = keberhasilan S3

K = knowledge

S = skill

A = Attitude

M =Kemalasan

P = Pendanaan

konstanta a, b, c, d, e merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang (bersifat bawaan) untuk masing-masing variabel

Di sini saya berikan nilai konstanta, karena setiap orang punya nilai potensi untuk knowledge, skill dan attitude yang berbeda-beda. Tetapi seseorang tidak perlu berkecil hati dengan nilai potensi yang rendah. Sebagai contoh, seseorang yang punya nilai potensi knowledge (IQ misal) yang tidak begitu tinggi, tetap akan berpeluang berhasil untuk S3 jika dia dapat meningkatkan nilai variabel knowledge dengan cara banyak melakukan eksplorasi knowledge secara maksimal, walaupun effort-nya lebih besar daripada orang yg punya IQ yang lebih tinggi. Contoh lain, jika seseorang punya nilai potensi attitide yang tidak tinggi, misal seseorang punya karakter yang kurang baik, mudah menyerah dsb, tetap akan berpeluang berhasil s3 dengan berusaha untuk memperbaiki attitude. Sebagai contoh misalnya seseorang berusaha bagaimana dia bersikap pada kondisi tertentu, bagaimana berperilaku pada orang lain dan komunitas, dan sebagainya. Variabel A saya berikan orde kuadrat karena Variabel A adalah yang paling berpengaruh untuk keberhasilan S3. Faktor pendanaan juga ada nilai konstanta, yang dalam arti adalah keadaan yang bersifat bawaan pada orang tersebut dalam hal pendanaan. Misal, seseorang memang sudah kaya, sebelum S3, atau seseorang mendapatkan dukungan beasiswa penuh dengan jangka waktu tidak terbatas, namun ada juga orang yang memang keadaan awalnya tidak ada dukungan dana sama sekali ataupun beasiswa tapi sangat terbatas. Sebagai contoh, misal jika seseorang punya keadaan awal bukan orang kaya dan beasiswa yang terbatas, maka orang tersebut harus meningkatkan variabel pendanaan dengan cara mencari tambahan dana dengan berbagai cara, misal wirausaha, ataupun mencari proyek penelitian yang menghasilkan uang. Tapi yang harus diingat, kita harus melakukan pencarian dana tambahan ini secara proporsional, karena jika tidak proporsional, justru akan menghambat keberhasilan studi S3.

Sementara itu  variabel kemalasan berbanding terbalik dengan variabel yang lain. Hal ini masuk akal, karena faktor kemalasan merupakan hambatan utama bagi semua variabel yang lain. Perasaan malas adalah hal yang bersifat manusiawi. Namun setiap orang punya potensi atau bakat malas yang berbeda-beda, sehingga ada faktor konstanta untuk kemalasan ini.

Demikian sekedar coret-coretan dari saya tentang kiat keberhasilan S3, semoga bermanfaat

Resume Kuliah 10 Sept 2012

bagian tersulit dari studi S3 adalah mendapatkan novelty. Novelty bisa didapatkan secara deduktif atau induktif. Cara menerapkan prinsip deduktif atau induktif adalah dengan “berpikirlah lain dari biasanya”. Contoh, misal dalam penelitian kita, jika pembuktian secara deduktif gagal, bisa dicoba dengan cara induktif, atau sebaliknya.

Sebuah Disertasi menghasilkan : Framework, Metode, Model, Prosedur, dan yang paling bagus jika dapat menghasilkan suatu Teorema baru. Memang, untuk banyak penelitian bidang engineering, dimana pembuktian kebenaran lebih sering dilakukan dengan percobaan empiris, peluang untuk menghasilkan teorema baru memang kecil, dibanding dengan penelitian bidang sains, yang lebih banyak berada di area teori (walaupun penelitian dibidang sains terapan juga banyak).

Salah satu hal yang sulit dalam S3 adalah penguasaan terhadap keluasan dan kedalaman ilmu yang menjadi bidang keahliannya. Keluasan di sini dalam arti kemampuan untuk berinteraksi pada bidang ilmu diluar bidang keahliannya (interdisipliner). Keluasan dapat dicirikan dengan pertanyaan “apa berpengaruh terhadap apa“. Sementara itu, kedalaman di sini dalam arti seseorang harus dapat mengetahui kelebihan atau kekurangan suatu metode dan dapat mengetahui suatu pendapat, prosedur, dsb benar atau salah dalam bidang yang menjadi keahliannya. Kedalaman dapat dicirikan dengan pertanyaan “mengapa“.

Karl Raimund Popper, pada tahun 1934 menggebrak dunia filsafat sains dengan bukunya The Logic of Scientific Discovery. Dalam bukunya, Karl Popper melakukan kritik terhadap kecenderungan metodologi sains pada masa itu yang didominasi oleh Positivisme. Positivisme adalah sebuah aliran filsafat yang bahkan sampai saat ini masih berjaya dan dianggap sebagai aksioma oleh para saintis maupun masyarakat umum. Kalau verifikasi digunakan untuk mencari kebenaran suatu teori, maka Falsifikasi digunakan untuk mencari kesalahan suatu teori. Dengan dapat dibuktikannya bahwa suatu teori salah, maka teori itu akan digantikan dengtan teori baru yang lebih baik. Beberapa kegunaan dari falsifikasi adalah untuk memunculkan novelty (teori, metoda baru) dan agar kita jangan selalu menganggap orang lain benar, sehingga mematikan sikap kritis kita.

Kembali lagi ke studi S3…..Kunci keberhasilan studi S3 adalah :

  1. Harus dapat membuat schedule dan target penelitian
  2. Disediakan waktu yang memang didedikasikan untuk riset S3
  3. Harus menyenangi topik yang sedang diteliti

Daftar Pustaka :

http://panjikeris.wordpress.com (ada bagian tentang falsifikasi saya ambil dari blog ini)

Tugas 1 (3 September 2012)

Pertanyaan : Berapa besarnya nilai ijazah S3 bagi anda?

Saya menjawab pertanyaan ini dengan melihat perbandingan antara pendidikan S1, S2 dan S3 dari berbagai macam perspektif.

Dilihat dari kompetensi lulusannya :

  • Pada pendidikan sarjana (S1) diajarkan tentang khasanah ilmu yang ada dan yang sedang berkembang, lulusannya memiliki dan menguasai suatu disiplin atau metoda berpikir di bidangnya.  Lulusan dapat memahami dunia dengan lebih tepat, dan siap untuk belajar materi yang lebih sulit. Kemudian dia dapat menerapkan ilmunya untuk permasalahan-permasalahan yang bersifat generik (sudah pernah diajarkan). Kesimpulannya, seorang lulusan S1 harus siap memasuki bidang profesi
  • Lulusan pendidikan magister (S2) dapat menguasai state of the art dan best practices dalam bidang keahliannya.  S2 semacam lisensi untuk mempraktekkan profesi pada bidangnya.  Bisa juga dikatakan, S1 cenderung generalis, S2 cenderung spesialis.  Lulusan S2 harus dapat mendesain dan menginovasi solusi baru. Kesimpulannya, lulusan S2 harus siap berinovasi dalam profesi
  • Lulusan pendidikan doktoral (S3) adalah seorang peneliti. Jadi syarat pertama seorang doktor sebenarnya adalah keinginan menulis pengetahuan baru.   Tanpa keinginan ini, pendidikan doktoral sebenarnya sia-sia.  Syarat kedua, tentu keingin-tahuan serta kegigihan untuk menggunakan metoda riset untuk mencari pengetahuan baru. Kesimpulannya, lulusan S3 harus siap meneliti dan mempublikasi pengetahuan baru

Analogi :

Analogi pencapaian S1, S2 dan S3 dengan contoh “pensil”:

lulusan S1 harus bisa membuat pensil, lulusan S2 harus mendalami semua hal tentang pensil, lulusan S3 harus mempertanyakan kembali esensinya (“kenapa harus pensil?”).

Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 4

S3 : 10

Dari sisi bobot ilmu :

Semua strata pendidikan tinggi S1, S2 dan S3 pada dasarnya bertujuan mengembangkan ketiga landasan ilmu yang disebut ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu. Namun terdapat perbedaan cakupan atau bobot ilmu dari ketiga strata terebut

  • Pendidikan program sarjana (S1) disamping membahas ontologi dan epistemologi ilmu lebih diarahkan pada penguasaan komponen aksiologi ilmu yang antara lain meliputi aspek penggunaan ilmu serta nilai-nilai normatif dalam memaknai kebenaran dan kenyataan pada ruang lingkup yang lebih spesifik atau single disiplin/sektoral.
  • Pendidikan program magister (S2) lebih menekankan penguasaan komponen epistemologi ilmu yang meliputi sumber, sarana, dan tatacara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan ilmiah. Dalam kepmendiknas diatas terlihat bahwa pengembangan ilmu tersebut ingin dicapai melalui penguasaan proses dan prosedur serta teknik dan tatacara menimba ilmu.
  • Pendidikan program doktor (S3) diharapkan tidak hanya sekedar menguasai komponen aksiologi dan epistemologi ilmu tetapi lebih dari itu masuk pada ontologi ilmu yang meliputi apa hakikat atau bentuk yang hakiki dari ilmu, kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah tersebut. Hakikat kebenaran ilmiah hanya akan bisa dicapai melalui perenungan yang dalam dan penelitian seksama dengan menggunakan pendekatan yang menyeluruh, komprehensif dan bersifat interdisiplin.

 Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

 Dari sisi regulasi pemerintah :

Mendiknas mengeluarkan keputusan untuk dipatuhi oleh seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di seluruh Indonesia yaitu Kepmendiknas No.232/U/2000 tentang Pedoman penyusunan Kurikulum pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa.

STRATA 1/SARJANA:

  • Menguasai dasar-dasar ilmiah dan ketrampilan, mampu menemukan, memahami, menjelaskan dan merumuskan cara penyelesaian masalah di bidangnya
  • Mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam kegiatan produktif dan pelayanan masyarakat.
  • Mampu bersikap dan berprilaku sesuai bidang ilmunya.
    Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sesuai bidangnya.

STRATA 2/MAGISTER:

  • Mampu mengembangkan dan memutakhirkan ilmu pengetahuan sesuai bidangnya, menguasai dan memahami pendekatan metode dan kaidah-kaidahnya.
  • Mampu memecahkan permasalahan melaui penelitian.
  • Mampu mengembangkan kinerja professional yang ditunjukkan dengan ketajaman analisis permasalahan serta keserbacakupan tinjauan dan kepaduan pemecahan masalah.

STRATA 3/DOKTOR:

  • Mampu mengembangkan konsep ilmu melalui penelitian.
  • Mampu mengelola, memimpin dan mengembangkan program penelitian.
  • Mampu melakukan pendekatan interdisipliner.

 Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

 Dari sisi keilmuan :

  • Pendidikan S1 : Mampu menerapkan ilmu dalam kegiatan produktif layanan masyarakat
  • Pendidikan S2 : Mampu meningkatkan layanan masyarakat dengan penelitian dan pengembangan
  • Pendidikan S3 : Mampu menciptkana konsep baru bidang ilmu melalui penelitian

Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

Dari sisi penelitian :

  • Pendidikan S1 : Mengerti peran dan kegiatan pengabdian ilmu melalui penelitian
  • Pendidikan S2 : Mampu berperan aktif mengembangakan ilmu melalui penelitian
  • Pendidikan S3 : Mampu memimpin penelitian pengembangan ilmu

Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

Dari  sisi wawasan :

  • Pendidikan S1 : Mampu mengantisipasi masalah bidang penelitian
  • Pendisikan S2 : Mampu berperan aktif mengembangakan ilmu melalui penelitian
  • Pendidikan S3 : Mampu memecahkan masalah interdisipliner

 Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

 Dari sisi sikap :

  • S1 : Mampu/cepat adaptasi terhadap lingkungan
  • S2 : Mampu untuk bekerja tak tergantung lingkungan ilmu saja(kreatif)
  • S3 : Mampu mengubah lingkungan Ilmu dengan konsep yang dikembangkan(arif)

Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

Dari sisi tugas akhir

  • Skripsi (S1)
    • Permasalahan dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam
    • Bobot ilmiah Rendah – sedang
    • Tidak harus ada penemuan hal-hal yang baru
  • Tesis (S2)
    • Permasalahan diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalam
    • Bobot ilmiah Sedang – tinggi.  Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada
    • Diutamakan penemuan hal-hal yang baru
  • Disertasi (S3)
    • Permasalahan diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam
    • Bobot ilmiah Tinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
    • Diharuskan penemuan hal-hal yang baru

Nilai bobot, skala 0 – 10 :

S1 : 1

S2 : 3

S3 : 10

KESIMPULAN :

Dari beberapa perbandingan ini, maka jika saya ukur seberapa tinggi nilai ijazah S3 saya, dibanding ijazah SD, SMP, SMA, S1, S2 dengan skala 0 – 15 :

Ijazah SD : nilai 1

Ijazah SMP : nilai 2

Ijazah SMA : nilai 3

Ijazah S1 : 6

Ijazah S2 : 9

Ijazah S3 : 15

Daftar Pustaka :

1.  Armein Z. R. Langi , dalam blognya : http://azrl.wordpress.com

2.  Herlindah, dalam site-nya : http://herlindahpetir.lecture.ub.ac.id

3.   http://rumahpengetahuan.web.id

4.   http://mpiuika.wordpress.com

5.   Ifdal, dalam blognya : http://azaleany.blogspot.com

Tentang blog ini

Blog ini dibuat dalam rangka kuliah Filsafat Ilmu pada program doktoral program studi Teknik Eleltro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Matakuliah Filsafat Ilmu adalah salah satu matakuliah pada semester pertama dalam studi S3 saya. Matakuliah ini diampu oleh Prof Dr Kusprijanto, MSc.